Disclaimer: Artikel ini disusun sebagai bentuk evaluasi konstruktif agar pesantren di Indonesia dapat berkembang menjadi lebih baik, lebih profesional, dan semakin relevan dengan kebutuhan zaman. Pesantren memiliki peran besar dalam sejarah pendidikan dan pembentukan karakter bangsa. Namun, sebagaimana sistem pendidikan lainnya, pesantren juga perlu terbuka terhadap kritik dan pembaruan agar tetap mampu menjawab tantangan masa kini.
Kesenjangan Standar Kualitas Antar Pesantren
Tidak semua pesantren memiliki standar kualitas yang sama. Ada pesantren yang sudah sangat maju dalam manajemen, kurikulum, dan fasilitas, namun ada pula yang masih tertinggal.
Perbedaan ini menciptakan kesenjangan mutu lulusan dan pengalaman belajar santri. Diperlukan standar minimal yang lebih konsisten agar kualitas pendidikan lebih merata.
Transparansi Manajemen dan Keuangan
Sebagian pesantren masih mengelola administrasi dan keuangan secara manual dan kurang transparan.
Kurangnya sistem pencatatan yang rapi dapat menimbulkan potensi masalah kepercayaan dari wali santri. Penerapan sistem manajemen berbasis teknologi dapat menjadi solusi untuk meningkatkan akuntabilitas.
Keseimbangan Kurikulum Agama dan Keterampilan Modern
Beberapa pesantren masih terlalu fokus pada materi keagamaan tanpa memberikan bekal keterampilan abad 21 seperti literasi digital, komunikasi, kewirausahaan, dan teknologi.
Padahal, santri juga akan hidup di masyarakat modern yang menuntut kompetensi luas.
Isu Kesejahteraan Tenaga Pengajar
Guru dan ustadz di sebagian pesantren masih menerima kompensasi yang belum sebanding dengan beban kerja mereka.
Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini bisa berdampak pada motivasi dan kualitas pengajaran.
Pengawasan dan Perlindungan Santri
Karena sistem asrama bersifat tertutup, pengawasan internal harus benar-benar kuat.
Pesantren perlu memastikan adanya mekanisme perlindungan santri, sistem pelaporan yang aman, dan standar etika yang jelas untuk mencegah penyalahgunaan wewenang.
Pesantren adalah institusi pendidikan yang sangat berharga bagi Indonesia. Kritik bukanlah bentuk penolakan, melainkan bagian dari proses pertumbuhan.
Dengan keterbukaan terhadap evaluasi, adopsi teknologi, peningkatan kualitas manajemen, serta komitmen terhadap perlindungan santri, pesantren dapat menjadi model pendidikan yang unggul secara moral, akademik, dan profesional.