Pengelolaan keuangan pesantren sering kali berjalan apa adanya tanpa sistem yang jelas, sehingga menimbulkan berbagai kesalahan yang berdampak pada transparansi, efisiensi, dan keberlangsungan operasional pesantren.
Pencatatan Keuangan Masih Dilakukan Secara Manual
Banyak pesantren masih mencatat pemasukan dan pengeluaran di buku tulis atau file terpisah. Cara ini rawan kesalahan, data hilang, dan sulit dilacak kembali.
Pencatatan manual juga menyulitkan pembuatan laporan keuangan secara cepat dan akurat.
Tidak Ada Pemisahan antara Dana Operasional dan Dana Lainnya
Kesalahan umum lainnya adalah mencampur dana operasional pesantren dengan dana pembangunan, donasi, atau dana kegiatan khusus.
Tanpa pemisahan yang jelas, pesantren kesulitan mengetahui kondisi keuangan sebenarnya dan berisiko salah dalam pengambilan keputusan.
Laporan Keuangan Tidak Dibuat Secara Berkala
Sebagian pesantren hanya membuat laporan keuangan ketika dibutuhkan, bukan secara rutin.
Akibatnya, pengurus tidak memiliki gambaran keuangan terkini dan sulit melakukan evaluasi serta perencanaan anggaran.
Kurangnya Transparansi kepada Wali Santri
Minimnya transparansi keuangan dapat menurunkan kepercayaan wali santri dan donatur.
Laporan yang tidak jelas atau sulit diakses sering menimbulkan pertanyaan dan potensi kesalahpahaman.
Belum Memanfaatkan Sistem Keuangan Digital
Banyak pesantren belum memanfaatkan sistem keuangan digital yang sebenarnya dapat mempermudah pencatatan, pelaporan, dan pengawasan keuangan.
Dengan sistem digital, pesantren dapat mengelola keuangan secara lebih rapi, transparan, dan profesional.